Tingginya kasus Covid-19 di Indonesia, menyebabkan kelangkaan tabung oksigen. Hal ini dibuktikan dengan sejumlah rumah sakit mengeluh bahwa stok oksigen saat ini sudah banyak yang kosong dan sebagian orang yang dirawat di rumah juga mengalami kesulitan untuk mendapatkan tabung oksigen. Menanggapi hal tersebut, belakangan ini muncul viral di sosial media bahwa aerator akuarium dapat digunakan sebagai pengganti tabung oksigen terutama bagi pasien Covid-19 yang mengalami gejala sesak nafas.
Salah satu unggahan itu memperlihatkan cara membuat alat penyaring udara sederhana serta foto dan video merakit aerator. Dalam beberapa unggahan tersebut, alat-alat untuk membuat oksigen itu, disebutkan antara lain aerator aquarium, botol bekas, selang, dan air. Teknik tersebut pun diklaim lebih murah, karena hanya bermodalkan Rp 150 ribu saja dan ketersediaan alat mudah didapatkan dengan memanfaatkan alat-alat dari rumah.
Lalu benarkah aerator dapat berfungsi sama dengan tabung oksigen sebagai alat bantu pernapasan?
Faktanya, Kepala Balai Pengembangan Instrumentasi di LIPI, Bapak Anto Tri Sugiarto, menjelaskan, alat tersebut tidak akan dapat menambah jumlah oksigen yang dihirup. Pompa aerator hanya membantu mengirim udara ke saluran pernapasan. Lebih lanjut, dosen Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan IIK Bhakta, Bapak Fery Eko Pujiono, S.Si., M.Si. juga menjelaskan bahwa pasien yang menderita sesak nafas membutuhkan suplai oksigen dari tabung oksigen, yang mana kandungan oksigennya antara 99 - 100%. Tidak seperti halnya cara kerja aerator yang menghembuskan udara normal dengan kandungan oksigen hanya 20% saja. Penggunaannya pun hanya untuk melarutkan oksigen ke dalam air. Jadi tidak tepat jika aerator digunakan untuk menyuplai oksigen bagi pasien sesak nafas, terutama pasien Covid-19.
Sementara itu, dokter spesialis paru Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Bapak Prasenohadi juga menyampaikan bahwa aerator sebenarnya alat yang digunakan di akuarium dan berfungsi untuk menghasilkan gelembung udara agar udara dan oksigen dalam udara tadi terdifusi dalam air akuarium, membuat air akuarium kaya akan oksigen untuk pernapasan ikan dalam air.
Sedangkan alat bantu pernapasan untuk manusia telah tersedia dan diproduksi dengan kualitas yang sesuai standar. Meski belum ada kajian ilmiah, ia menduga alat tersebut hanya menghasilkan udara yang lebih dingin dan lembab. Kelembaban tersebut penting agar saluran napas tidak kering atau terjadi iritasi.
“Mungkin dampak negatif penggunaan alat ini tidak ada dan masih harus dibuktikan. Tetapi, jika alat ini digunakan oleh orang normal, maka saluran pernapasannya akan menjadi lebih lembab. Bahkan, mungkin akan timbul infeksi atau penyakit tertentu lainnya,” tutur beliau.
Mengingat saluran pernapasan maupun organ dalam lainnya membutuhkan ilmu khusus, Bapak Pras pun menghimbau masyarakat untuk tidak mengembangkan alat kesehatan dari pemahaman sehari-hari.
Temukan perbedaan lainnya dari aerator dan tabung oksigen dengan menonton link pada video ini hingga selesai!
https://www.instagram.com/p/CSiSmyqFjGP/
Jangan lupa share kepada kerabat, saudara, dan teman yang membutuhkan informasi terkini tentang kesehatan.
Sumber: suara.com