Pendaftaran Jalur Reguler 2 Gelombang 2 TA 2026-2027 T.A. 2026 - 2027 Daftar Sekarang
Pendaftaran Profesi Semester Gasal Gelombang 2 TA 2026-2027 T.A. 2026 - 2027 Daftar Sekarang
Pendaftaran Program Khusus Reguler 2 Gelombang 2 TA 2026-2027 T.A. 2026 - 2027 Daftar Sekarang
Pendaftaran Program Alih Jenjang Gelombang 3 TA 2026-2027 T.A. 2026 - 2027 Daftar Sekarang
Pendaftaran Program RPL Gelombang 3 TA 2026-2027 T.A. 2026 - 2027 Daftar Sekarang
Pendaftaran Magister Semester Gasal Gelombang 2 TA 2026-2027 T.A. 2026 - 2027 Daftar Sekarang
Pendaftaran Jalur Reguler 2 Gelombang 2 TA 2026-2027 T.A. 2026 - 2027 Daftar Sekarang
Pendaftaran Profesi Semester Gasal Gelombang 2 TA 2026-2027 T.A. 2026 - 2027 Daftar Sekarang
Pendaftaran Program Khusus Reguler 2 Gelombang 2 TA 2026-2027 T.A. 2026 - 2027 Daftar Sekarang
Pendaftaran Program Alih Jenjang Gelombang 3 TA 2026-2027 T.A. 2026 - 2027 Daftar Sekarang
Pendaftaran Program RPL Gelombang 3 TA 2026-2027 T.A. 2026 - 2027 Daftar Sekarang
Pendaftaran Magister Semester Gasal Gelombang 2 TA 2026-2027 T.A. 2026 - 2027 Daftar Sekarang
Pendaftaran Magister Semester Gasal Gelombang 2 TA 2026-2027 T.A. 2026 - 2027 Daftar Sekarang
Telah dibuka Program Kelas Karyawan (Kategori RPL, Progsus dan Alih Jenjang) TA 2024-2025Info Selengkapnya
Serangan jantung adalah kondisi darurat saat terjadi penghentian aliran darah yang membawa oksigen ke jantung akibat terjadi penyumbatan. Kondisi ini menyebabkan napas behenti secara mendadak. Tidak ada yang tahu secara pasti kapan dan di mana serangan jantung muncul.
Jika tidak mendapatkan pertolongan secepatnya, maka berpeluang besar terjadi kondisi fatal. Oleh sebab itu, penting bagi kita mengetahui cara menolong pasien gagal jantung dengan tepat. Terutama bagi kita yang memiliki kerabat maupun keluarga yang memiliki riwayat penyakit jantung.
Dosen S1 Keperawatan IIK Bhakti Wiyata Winanda Rizki B.S, M.Kep.,Ns menjelaskan penyakit gagal jantung dapat disebabkan oleh penyakit jantung koroner. Juga bisa akibat dari penyakit paru seperti TBC. Selain itu, pasien diabetes militus pun berpeluang mengalami serangan jantung.
Agar tidak terjadi hal fatal, orang sekitar dapat memberikan pertolongan pertama kepada pasien gagal jantung. Winanda memberikan cara pertolongan terhadap pasien gagal jantung dengan langkah DRSCAB. Apa itu DRSCAB? Berikut ulasannya.
1. D (Danger)
“Aman bagi penolong, aman bagi pasien. Aman juga bagi lingkungan sekitar,” tegas Winanda. Penting bagi Anda memperhatikan kondisi sekitar pasien yang sedang mengalami gagal jantung. Jika terjadi di tempat atau jalan yang ramai, maka sebaiknya Anda membawa pasien di tempat yang aman.
2. R (Response)
Setelah memastikan kondisi sekitar pasien aman, Anda dapat melakukan cara pertolongan pertama, yaitu mengecek respon dari korban. Caranya, menepuk bahu pasien. Apabila pasien belum merespon dengan cara pertama, Anda dapat memanfaatkan respon nyeri, yaitu menekan ujung jari pasien.
3. S (Shout For Help)
Selain memberikan pertolongan awal, penting bagi Anda tetap memanggil bantuan medis. Salah satunya yaitu menelpon ambulans gawat darurat (119). Katakan dengan jelas bahwa Anda sedang bersama orang yang mengalami serangan jantung. Sehingga pasien tetap mendapatkan pertolongan secara tepat.
4. C (Circulation)
Sambil menunggu ambulans datang, penolong dapat melakukan kompresi dan ventilasi. “Kita dapat melakukan pijat jantung,” kata Winanda. Penolong meletakkan tumit salah satu tangan di atas sternum pasien. Sementara itu, tangan lainnya di atas tangan pertama dengan jari-jari saling bertautan. Kompresi diulang sebanyak 30 kali, dengan kecepatan 100-120 kali/menit, serta 2 ventilasi. Ini dilakukan sebanyak 5 siklus.
Selain itu, kita juga bisa menggunakan AED (Automated External Defibrillator), yang berfungsi sebagai alat kejut jantung. Selama memakai AED, penolong melakukan kompresi dan ventilasi sampai nadinya terdeteksi.
1. A (Airway)
Ini dilakukan dengan mengamankan jalur napas pasien. Jika ditemukan sumbatan, penolong harus mengeluarkan sumbatan dengan segera. Penggunaan oropharyngeal airway atau selang intubasi juga dapat membantu dalam proses mengamankan jalur napas pasien.
2. B (Breathing)
Yaitu memberikan bantuan napas. Penolong dapat memberikan rescue breathing setiap 6 detik. “Kita hembuskan udara ke mulut korban dengan menghitung 1,2,3,4,5,6 lalu hembuskan lagi sampai pasien memberikan respon spontan,” ungkapnya.
Namun, pemberian napas buatan mulut ke mulut saat ini mengalami banyak pertentangan. Karena itu, penolong juga dapat memberi ventilasi dengan menggunakan bag-valve-mask (BVM).
Setelah melakukan langkah penolongan DRSCAB di atas, Anda dapat melakukan recovery pada pasien. Caranya, memposisikan badan pasien miring. Hal ini dapat mencegah terjadi aspirasi pada pasien selama menunggu kedatangan ambulans. Cek ulasan lebih detail pada channel Youtube IIK Bhakti Wiyata.