Meski sama-sama di rumpun kedokteran, namun dokter umum dan kedokteran gigi sudah dibedakan sejak pendidikan. Hal tersebut dikarenakan keduanya dianggap memiliki disiplin ilmu masing-masing.
Saat di perguruan tinggi, kalian akan menemukan dua fakultas kedokteran, yaitu Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG). Selain karena memiliki bidang ilmu yang beda, ada banyak alasan kedokteran dan kedokteran gigi terpisah, berikut ini.
Sejarah Dimulainya Kedokteran Dan Kedokteran Gigi Terpisah
Semuanya dimulai dari zaman pertengahan sekitar tahun 1210, di mana muncul istilah tukang cukur-ahli bedah (barber surgeon). Tak hanya bertugas memangkas rambut, tukang cukur juga melakukan operasi seperti amputasi organ, bekam, hingga pencabutan gigi. Multifungsi banget, ya. Tentu saja, tindakan yang dilakukan tanpa menggunakan obat bius. Bayangkan sendiri sakitnya cabut gigi tanpa bius.
Selanjutnya, pada tahun 1728 di Prancis, seorang dokter bedah bernama Pierre Fauchard merasa dan peduli atas kejadian tersebut. Fauchard menulis buku “The Surgeon Dentist” agar masyarakat paham tentang sistem anatomi rongga mulut, termasuk teknik pembedahan pada rongga mulut dan gigi. Dia dikenal dengan Bapak Kedokteran Gigi Modern karena mengangkat bidang dokter gigi, salah satunya dengan memisahkan dari dokter, tukang cukur, dan ahli alkimia.
Kemudian tahun 1840, Dokter Horace Hayden & Chapin Harris mempunyai ide untuk menambahkan instruksi kesehatan gigi ke dalam kursus kedokteran di Universitas Maryland. Sebab, mereka yakin ilmu dokter gigi bukanlah ilmu tukang dan dokter gigi pantas dikatakan sebagai profesi, program studi, dan memiliki izin praktek. Namun, para dokter di institusi itu menolak ide mereka dan tak lama kemudian mereka mendirikan Sekolah Tinggi Kedokteran Gigi di Baltimore. Sebagai lembaga independen, Baltimore College of Dental Surgery, merupakan tempat lahirnya gelar Doctor of Dental Surgery (DDS).
Baca Juga
- Ingin Kuliah S1 Keperawatan? Ini Yang Harus Kamu Pelajari
- Butuh Gigi Palsu? Kenali Gigi Tiruan Yang Bagus
Masa Pendidikan
Seperti namanya, pendidikan dokter umum memiliki cakupan luas, mulai ujung rambut hingga ujung kaki. Di dalamnya, juga terdapat mata kuliah ilmu gigi dan mulut secara umum. Sedangkan pendidikan dokter gigi hanya berfokus pada kesehatan gigi dan mulut.
“Pendidikan Dokter Gigi merupakan studi yang berfokus mempelajari tentang tindakan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif pada rongga mulut dan jaringan di sekitarnya,” terang Kaprodi S1 Kedokteran Gigi IIK Bhakta drg. Dzanuar Rahmawan, M.Si.
Mahasiswa Dokter Umum dan Dokter Gigi Umum memiliki masa studi hampir sama, yaitu 4-5 tahun. Jenjang ini setara dengan strata 1 (S1). Setelah lulus, mereka memperoleh gelar pendidikan masing-masing, yaitu sarjana kedokteran (S.Ked) dan sarjana kedokteran gigi (S.Kg).
Belum cukup sampai disitu saja, lulusan harus melanjutkan pendidikan profesi selama dua tahun atau 4 semester. “Sarjana Kedokteran Gigi IIK Bhakta melanjutkan pendidikan sebagai dokter gigi muda (CO-Ass) untuk berpraktik di RSGM dengan pengawasan dokter gigi spesialis,” ujar drg Dzanuar.
Jika dinyatakan lulus dari jenjang profesi, barulah mereka resmi menyandang gelar dokter. Dokter gigi umum (drg) dan dokter umum (dr.). Penulisan gelar dokter diletakkan di awal nama. Misalnya, dokter gigi Nanda. Maka, penulisannya menjadi drg.Nanda.
Seringkali para dokter umum tak berpuas diri. Mereka melanjutkan ke Program Pendidikan Dokter Spesialis atau yang biasa disingkat PPDS. Ada banyak macam PPDS. Setiap dokter berhak memilih spesialisasi sesuai dengan keinginan masing-masing.
IIK Bhakta memiliki program pendidikan S1 Kedokteran Gigi hingga Pendidikan Profesi Dokter Gigi. Dilengkapi dengan fasilitas modern dan tenaga pendidik profesional, Kampus Kesehatan Terbaik di Kediri ini siap menghasilkan dokter gigi unggul. Ayo daftar sekarang juga!