Bullying atau disebut dengan perundungan atau perisakan atau pembulian merupakan penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan maupun mengintimidasi orang lain. Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Mengalami bullying tentunya tidak menyenangkan.
“Perundungan dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, orientasi seksual, atau kemampuan,” jelas Septia Purwandani, S.Psi.M.Psi., Psikolog.
Perundungan dapat terjadi di berbagai tempat, seperti sekolah, tempat kerja, atau lingkungan masyarakat. Bentuknya bisa verbal, fisik, atau psikologis. Dengan perkembangan teknologi, kini juga sering terjadi melalui media digital atau yang dikenal dengan cyberbullying.
Bentuk-Bentuk Bullying
Bullying dapat berbentuk berbagai tindakan, antara lain.
- Bullying Fisik: Memukul, menendang, mendorong, atau melukai korban secara fisik.
- Bullying Verbal: Menghina, mengejek, atau merendahkan korban dengan kata-kata.
- Bullying Sosial: Mengucilkan korban, menyebarkan rumor buruk, atau memboikot korban dari kelompok sosial.
- Cyberbullying: Menggunakan media digital untuk menyebarkan konten yang menghina. Memanipulasi, atau merendahkan orang lain.
Dampak Bullying
Tentunya bullying memiliki dampak yang sangat buruk bagi korban, baik secara jangka pendek maupun jangka panjang. Korban bullying dapat mengalami stres, kecemasan, depresi, kehilangan kepercayaan diri, serta gangguan tidur dan makan.
Dalam beberapa kasus yang lebih ekstrem, bullying bisa memicu keinginan untuk menyakiti diri sendiri maupun bunuh diri. Seperti yang terjadi pada kasus dokter Aulia Risma, mahasiswa PPDS Universitas Diponegoro Semarang. Sementara itu, pelaku bullying juga berisiko mengalami masalah di kemudian hari, seperti terlibat dalam tindakan kriminal atau memiliki hubungan sosial yang bermasalah.
Oleh sebab itu, perlu dilakukan langkah pencegahan sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi. Dosen S1 Psikologi IIK Bhakta ini menghimbau siapa pun yang menjadi korban bullying segera bercerita atau melapor ke orang terdekat, seperti orang tua, kakak, dan sahabat. “Kamu juga bisa menghiraukan atau meminta pelaku untuk berhenti. Bisa juga lawan balik mereka,” kata Septia.
Baca Juga
Ciri-Ciri Korban Mengalami Bullying
Korban bullying dapat dikenali dengan beberapa ciri berikut ini.
1. Perubahan Emosi
Mereka yang mengalami bullying seringkali menunjukkan perubahan emosi seperti kecemasan, rasa takut berlebihan, atau depresi. Mereka bisa menjadi lebih pendiam atau menarik diri dari interaksi sosial.
2. Penurunan Prestasi
Korban bullying biasanya mengalami penurunan dalam prestasi akademik maupun pekerjaan. Mereka mungkin kehilangan motivasi dan kesulitan berkonsentrasi.
3. Masalah Kesehatan
Dapat dikenali dengan ciri mengeluhkan sakit kepala, sakit perut, atau gejala fisik lainnya tanpa sebab yang jelas. Hal ini bisa menjadi tanda stres akibat bullying.
4. Perubahan Perilaku
Para korban mungkin menunjukkan perilaku yang tidak biasa, seperti ketidakmauan untuk pergi ke sekolah atau tempat kerja, merasa tidak aman, atau menghindari interaksi sosial.
5. Kehilangan Barang Pribadi
Dalam beberapa kasus, korban mungkin sering kehilangan barang-barang pribadi, yang sebenarnya dirampas oleh pelaku perundungan.

Ciri- Ciri Pelaku Bullying
Ada korban, pastinya ada pelakunya. Salah satu faktor psikologis dari tingkah laku perundungan adalah pola asuh orang tua maupun keluarga yang cenderung otoriter. Mereka yang memanjakan anak dapat membentuk karakter atau kecenderungan anak menjadi aktor perundungan. Ini adalah ciri-ciri pelaku perundungan.
1. Perilaku Agresif
Pelaku bullying seringkali menunjukkan perilaku agresif baik secara verbal maupun fisik. Mereka mungkin suka mengintimidasi atau mendominasi orang lain.
2. Kurangnya Empati
Biasanya pelaku tidak merasakan penyesalan atau simpati terhadap korban. Mereka merasa bahwa tindakan yang dilakukan wajar dilakukan atau seolah-olah korban “pantang menyerah.”
3. Mendominasi Hubungan
Para pelaku cenderung ingin selalu mendominasi hubungan interpersonal, baik dengan teman, keluarga, atau rekan kerja.
4. Masalah Disiplin
Seringkali pelaku bullying memiliki riwayat masalah disiplin di sekolah atau lingkungan kerja, seperti melanggar aturan, suka berkelahi, atau berbuat kerusuhan.
5. Popularitas Berlebihan atau Merasa Berkuasa
Beberapa pelaku bullying, terutama di sekolah, adalah individu yang merasa memiliki kekuasaan atau pengaruh yang besar, sehingga mereka menggunakan posisi tersebut untuk mengontrol atau merendahkan orang lain.
Bullying adalah masalah serius yang dapat berdampak buruk pada kesehatan mental dan fisik korban. Untuk itu, penting untuk mengenali ciri-ciri korban dan pelaku bullying agar kita bisa lebih cepat mengambil tindakan preventif atau intervensi. Dengan kesadaran dan kerja sama semua pihak, bullying bisa dicegah dan dikurangi, menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung bagi semua orang.
Kamu juga bisa menjadi psikolog profesional yang ahli menangani kasus bullying. Tentunya mulai dari kuliah di prodi S1 Psikologi. Ayo daftar sekarang juga!