Peristiwa dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Manba’ul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian terhadap pentingnya keamanan pangan dalam skala besar. Kejadian keracunan MBG Sidoarjo tersebut membuktikan bahwa pengolahan makanan untuk skala ribuan porsi tidak sekadar urusan memasak dan membagikan makanan, melainkan memerlukan penerapan standar keselamatan dan keamanan pangan (food safety) yang ketat.
Di sinilah peran penting lulusan kesehatan ahli gizi profesional. Kebutuhan terhadap tenaga ahli gizi kini bukan lagi sekadar pelengkap di rumah sakit, melainkan garda terdepan dalam menjaga keselamatan serta mutu gizi masyarakat.
Belajar dari Kasus MBG Tanggulangin: Pentingnya Pengawasan Ahli Gizi
Pengelolaan makanan dalam skala besar memiliki tantangan yang jauh lebih kompleks, satu cela kecil dalam proses penyimpanan dapat memengaruhi kesehatan penerima program.
Jumlah bahan yang besar, produksi dalam jumlah yang banyak, keterbatasan waktu hingga proses distribusi ke lokasi penerima manfaat menjadi tahapan utama yang harus dijalankan sesuai standar prosedur.
Beberapa alasan utama mengapa hadirnya ahli gizi profesional di lapangan sangat krusial meliputi:
- Penerapan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP): Ahli gizi mengidentifikasi titik rawan bahaya pada setiap tahap pengolahan, dari pengadaan bahan baku segar hingga matang, guna mencegah berkembangnya bakteri patogen.
- Pengawasan Konsisten Higiene dan Sanitasi: Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) perlu dibarengi pengawasan harian. Ahli gizi memastikan kebersihan alat, area dapur, serta perilaku higiene penjamah makanan (food handlers).
- Manajemen Suhu dan Holding Time: Makanan olahan berprotein tinggi rentan basi jika berada di suhu ruang terlalu lama sebelum dikonsumsi. Ahli gizi memperhitungkan jeda waktu masak, pengemasan, dan waktu santap secara presisi.
- Monitoring Manajemen Penyelenggaraan Makan: Semakin besar jumlah makan yang diproduksi, semakin penting pula Sistem Kerja yang terencana, terdokumentasi, presisi dan konsisten di setiap tahap. Artinya, makanan bergizi harus berjalan beriringan dengan makanan yang aman.
Dimana Peran Tenaga Gizi dalam SIstem Pangan?
Seiring masifnya pelaksanaan program gizi nasional dan meningkatnya kesadaran publik terhadap mutu makanan, peluang kerja bagi lulusan Ilmu Gizi dan Kesehatan Masyarakat terbuka sangat lebar di berbagai sektor:
- Pengelola Dapur MBG & Unit Pelayanan Gizi Skala Besar: Menjadi penanggung jawab teknis gizi dan keamanan makanan di dapur umum atau penyedia katering program pemerintah.
- Konsultan Keamanan Pangan Industri Katering: Membantu perusahaan penyedia jasa makanan menjamin kualitas produk aman dari kontaminasi silang (cross-contamination).
- Fasilitas Kesehatan dan Institusi Pendidikan: Rumah sakit, sekolah berasrama, dan pondok pesantren membutuhkan tenaga ahli untuk menyusun menu seimbang dan mengawasi sanitasi pengolahan makanan secara berkala.
Baca Juga
Kalau Kuliah Gizi, Nanti Bisa Kerja Sebagai Apa?
Jawabannya cukup luas. Beberapa bidang yang dapat menjadi pilihan lulusan Gizi antara lain
1. Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan
Berperan dalam pelayanan gizi, dietetik, serta edukasi dan pelayanan terkait kebutuhan gizi pasien.
2. Penyelenggaraan Makanan / Food Service
Terlibat dalam pengelolaan makanan di rumah sakit, institusi, katering, maupun organisasi yang menyediakan makanan dalam jumlah besar.
3. Gizi Masyarakat
Berperan dalam program peningkatan status gizi dan kesehatan masyarakat di berbagai lingkungan pelayanan kesehatan.
4. Industri Pangan
Memiliki peluang untuk berkontribusi pada pengembangan, mutu, informasi, maupun aspek gizi produk pangan sesuai kompetensi dan bidang pekerjaan.
5. Institusi Pendidikan
Mendukung berbagai program yang berkaitan dengan edukasi gizi dan kesehatan.
6. Nutripreneurship
Mengembangkan usaha di bidang gizi, seperti catering, konseling gizi, maupun berbagai layanan dan produk yang berkaitan dengan kebutuhan gizi masyarakat. Dengan luasnya bidang tersebut, pendidikan Gizi tidak hanya mempersiapkan mahasiswa untuk bekerja di fasilitas kesehatan, tetapi juga membuka peluang untuk berkembang di berbagai
Selain itu, kebutuhan ahli gizi kompeten kian tinggi di Indonesia. Seperti yang dilansir di media Tempo.com, data BPS dan Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) mencatat jumlah ahli gizi terdaftar di Indonesia baru berkisar 34.000–40.000-an orang. Selain jumlah total yang masih kurang dari target rasio ideal yang ditetapkan Kementerian Kesehatan sebesar 48–56 tenaga gizi per 100.000 penduduk.
Berdasarkan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 280 juta jiwa, Indonesia idealnya membutuhkan 135.000–150.000 ahli gizi di seluruh sektor kesehatan publik.
Dibutuhkan Lulusan Ahli Gizi Berkualitas di IIK Bhakta
Meningkatnya kebutuhan akan tenaga gizi profesional menuntut institusi pendidikan tinggi kesehatan untuk terus meningkatkan mutu pembelajarannya. Salah satu kampus kesehatan swasta pelopor yang konsisten menjawab tantangan ini adalah Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata (IIK Bhakta) Kediri.
Sebagai kampus kesehatan yang kian kokoh posisinya di Indonesia, IIK Bhakta terus menunjukkan komitmennya melalui melalui S1 Gizi IIK Bhakta yang telah terakreditasi Baik Sekali oleh LAM-PTKes berdasarkan SK No. 0777/LAM-PTKes/Akr/Sar/IX/2022.

Foto Dok.Pri: Lab Dietik & Kulinari Prodi S1 Gizi IIK Bhakta.
Mengapa Lulusan Ahli Gizi IIK Bhakta Siap Kerja dan Siap Tanggap?
- Kualitas Terjamin dengan Akreditasi Unggul: Keberhasilan prodi-prodi di IIK Bhakta meraih Akreditasi Unggul memastikan bahwa proses pembelajaran, kurikulum, serta kualifikasi dosen telah memenuhi standar tertinggi pencetakan tenaga kesehatan nasional.
- Kurikulum Berbasis Praktik (60% Praktik, 40% Teori): Mahasiswa gizi dan kesehatan di IIK Bhakta dibekali pengalaman hands-on di laboratorium modern serta simulasi pengelolaan dapur instansi, sehingga tidak canggung saat menghadapi dinamika kerja riil.
- Fokus pada Keamanan Pangan dan Manajemen Sanitasi: Lulusan dibekali pemahaman mendalam mengenai sistem manajemen mutu pangan, HACCP, sanitasi pengolahan makanan masif, serta komunikasi risiko kesehatan.
Peristiwa keracunan makanan di Ponpes Tanggulangin, Sidoarjo, menjadi pengingat berharga bahwa pemenuhan gizi harus berjalan seiring dengan jaminan keselamatan pangan. Kehadiran ahli gizi profesional yang kompeten bukan lagi sekadar formalitas, melainkan kebutuhan mendesak untuk melindungi kesehatan masyarakat.
Pilihan melanjutkan pendidikan di institusi berakreditasi Unggul seperti IIK Bhakta Kediri menjadi langkah strategis untuk mencetak lulusan kesehatan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga tanggap dan kompeten dalam menjaga kualitas serta keamanan gizi bangsa.
Tersedia Jurusan Gizi. Saat ini masih dibuka pendaftaran Jalur Reguler 3 sesi 5 hingga 05 September 2026. Kamu bisa mendaftar secara online melalui website www.pmb.iik.ac.id atau datang langsung ke Kantor Pendaftaran, yang berlokasi di Jalan Wachid Hasyim No.65, Kediri. Jadi tunggu apa lagi? Daftar sekarang juga!